KEUTAMAAN KHUSYU DALAM SHOLAT


Rasulullah telah memberitakan bahwa pertama kali yang akan dicabut pada umat ini adalah khusyu’. Sebagaimana Rasulullah bersabda:
أَوَّلُ شَيْئٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ الْخُشُوْعُ حَتَّى لاَ تَرَى فِيْهَا خَاشِعاً
“Pertama kali yang akan dicabut pada umat ini adalah khusyu’ sampai engkau tidak akan melihat lagi ada orang yang khusyu’.” (H.R Ath Thabrani dalam Al Kabir, dari sahabat Abu Dzar yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani).
Sudah menjadi maklum, bahwa shalat lima waktu merupakan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Menunjukkan ibadah shalat ini memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah . Selain itu, ibadah shalat merupakan tiang agama. Seseorang akan menjadi kokoh di atas agamanya bila ia telah menegakkan shalat dengan sebenar-benarnya. Rasulullah bersabda:
“Kepala dari seluruh perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 2/138)
Oleh karena itu Allah menjadikan ibadah shalat ini sebagai barometer dari amalan-amalan ibadah lainnya. Maksudnya, bila shalat itu dikerjakan dengan baik sesuai petunjuk Rasulullah dan disertai khusyu’ maka amalan ibadah lainnya akan teranggap baik semua. Sebaliknya, bila shalatnya jelek maka amalan ibadah lainnya akan teranggap jelek semua. Sebagaimana Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:
“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.” (HR. Thabrani, Ash Shahihah 3/346 karya Asy Syaikh Al Albani).

Makna Khusyu’
Khusyu’ secara lughawi (etimonolgi) adalah semakna dengan khudhu’ yaitu ketenangan, akan tetapi khudhu’ ini berhubungan dengan badan sedangkan khusyu’ mencakup badan, pandangan, dan suara. Sedangkan khusyu’ secara syari’at (terminologi) ada beberapa definisi di antara para ulama’. Di antaranya; Al Imam Ibnul Qayyim, beliau berkata: “Khusyu’ adalah kokohnya hati di hadapan Rabb-Nya dengan penuh kerendahan.” (Madarijus Salikin 1/521)
Sehingga khusyu’ itu tempatnya di dalam hati yang akan membuahkan kekhusyu’an pada anggota badan. Anggota badan itu tergantung pada hati, jika hatinya kosong dari khusyu’ maka akan mempengaruhi kekhusyu’an pada anggota badan. Kalaupun timbul kekhusyu’an pada anggota badan tapi tanpa diiringi dengan kekhusyu’an hati, maka perlu diwaspadai. Barangkali itu bersumber dari sifat kemunafikan yang harus dijauhi. Shahabat Hudzaifah berkata: “Takutlah kalian dengan khusyu’ nifaq. Maka ada yang berkata kepada beliau : “Apa khusyu’ nifaq itu? Beliau menjawab: “Engkau melihat jasadnya khusyu’ padahal hatinya lalai. (Madarijus Salikin 1/521)
Sehingga khusyu’ dalam shalat adalah memusatkan kosentrasi dalam hati untuk menghayati setiap apa yang digerakkan dan diucapkan dalam shalat disertai perendahan diri dan pengagungan kepada Allah Rabbul ‘alamin.
Al Hasan Al Bashri berkata: “Khusyu’nya para sahabat itu bersumber dari hati. Oleh sebab itu dapat mempengaruhi ketundukan pandangan-pandangan mereka dan ketenangan anggota badan mereka. Sesungguhnya khusyu’ itu dihasilkan dari hati yang penuh kosentrasi dan mengalihkan semua perhatian selain shalat serta dapat berpengaruh baik kepada amalan-amalan ibadah selainnya. sehingga shalat itu bagaikan tempat istirahat dan penyejuk mata baginya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, An Nasaa’i dan selainnya dari sahabat Anas bin Malik , bahwa Nabi bersabda: “Dijadikan shalat itu sebagai penyejuk pandanganku.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 908)

Peranan Khusyu’ Dalam Shalat
Shalat merupakan ibadah yang sangat agung di sisi Allah . Memang, pada dasarnya semua ibadah itu untuk mengingat Allah . Namun, terkhusus pada ibadah shalat, Allah menegaskan secara langsung di dalam Al Qur’an bahwa tujuan ditegakkannya shalat adalah dalam rangka untuk mengingat-Nya . Allah berfirman (artinya): “Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)
Tujuan shalat yang agung ini mustahil akan terwujud kecuali bila bisa menghadirkan khusyu’ dalam shalat. Khusyu’ dalam shalat ibarat ruh dalam jasad. Jasad yang ditinggal oleh ruhnya, maka jasadnya menjadi mati, sehingga tiada berguna lagi. Seperti itu pula shalat, bila kosong dari kekhusyukan, maka untuk siapa gerakan ruku’ dan sujudnya? Dan apa gunanya membaca bacaan-bacaan dalam shalat?
Shalat pada hakekatnya juga merupakan do’a dan bermunajat kepada Allah . Rasulullah bersabda:
اَلمُصَلِّى يُنَاجِى رَبَّهُ
“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-Nya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Padahal Allah tidak akan menerima do’a dari hati yang lalai yaitu jauh dari kekhusyukan. Rasulullah bersabda:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan menerima do’a dari hati yang lalai dan kosong.” (H.R. At Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
Oleh karena itu khusyu’ sangat mempengaruhi besar kecilnya balasan bagi orang yang shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah :
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلاَتِهِ وَلَمْ يُكْتَبْ لَهُ مِنْهَا إِلاَّ نِصْفُهَا إِلاَّ ثُلُثُهَا إِلاَّ رُبُعُهَا إِلاَّ خُمُسُهَا إِلاَّ سُدُسُهَا إِلاَّ سُبُعُهَا إِلاَّ ثُمُنُها إِلاَّ تُسُعُهَا إِلاَّ عُشُرُهَا
“Sesungguhnya bila seorang hamba telah selesai dari shalatnya, maka tidak ditetapkan balasan dari shalatnya kecuali ada yang mendapat setengahnya, ada yang mendapat sepertiganya, ada yang mendapat seperempatnya, ada yang mendapat seperlimanya, ada yang mendapat seperenamnya, ada yang mendapat sepertujuhnya, ada yang mendapat seperdelepannya, ada yang mendapat sepersembilannya, dan ada yang mendapat seperesepuluhnya.” (H.R Ashhabus Sunan)
Sebagian ulama salaf berkata: “Shalat itu ibarat engkau menghadiahkan seorang wanita hamba sahaya kepada sang Raja. Bagaimana tanggapan sang Raja, bila yang engkau hadiahkan itu ternyata tangannya lumpuh, atau sebelah matanya buta, atau telinganya tuli, atau tangan dan kakinya buntung, atau (badannya) sakit atau perangainya jelek ataupun (rupanya) jelek, dan bahkan sudah jadi mayat? Maka bagaimana lagi tentang ibadah shalat, yang dijadikan hadiah dan taqarrub (mendekatkan diri) dari seorang hamba kepada Rabb-Nya? Padahal Allah itu baik, yang tidak menerima kecuali yang baik. Termasuk dari amalan yang tidak baik adalah shalat yang tidak ada ruhnya. Sebagaimana tidak teranggap pembebasan budak yang baik, jika ternyata budak itu sudah tidak ada ruhnya.” (Madarijus Salikin 1/526)
Para pembaca, sehingga menghadirkan khusyu’ dalam shalat itu memilki peranan sangat penting terhadap nilai ibadah shalat. Karena pada hakekatnya tiap gerakan dan bacaan dalam shalat menggambarkan bentuk dialog dan munajat dia kepada Rabb-Nya Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sungguh ironis, bila kita shalat tapi hati kita kosong/lalai dari menghayati apa yang kita gerakkan dan ucapkan dari ruku’, sujud dan seterusnya.
Lagi pula, sesungguhnya ibadah shalat itu bukanlah untuk Allah . Karena Allah itu adalah Dzat Yang Maha Kaya Yang tidak butuh kepada sesuatu apapun. Rasulullah bersabda:
يَا فُلاَنُ ! أَلاَ تُحْسِنُ صَلاَتَكَ ؟ أَلاِّ يَنْظُرُ المُصَلِّي إِذَا صَلَّى كَيْفَ يُصَلِّى ؟ فَإِنَّهَا يُصَلِّي لِنَفْسِِهَا
“Wahai fulan, tidakkah engkau membaikkan shalatmu? Tidakkah seseorang yang mengerjakan shalat melihat bagaimana ia shalat? Karena sesenguhnya ia shalat itu (manfaat/pahalanya kembali) untuk dirinya sendiri. (H.R Muslim no. 423, dari sahabat Abu Hurairah )

Kewajiban Khusyu’ Dalam Shalat
Khusyu’ dalam shalat merupakan perintah dari Allah . Sebagaimana firman Allah (artinya):
“Dan tegakkanlah karena Allah (dalam shalat kalian) dengan qaanitiin.” (Al Baqarah: 238)
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menerangkan makna qaanitiin adalah khusyu’ dan penuh kerendahan. (Lihat Al Mishbahul Munir)
Sehingga menjadi jelas makna ayat di atas yaitu Allah memerintahkan untuk menegakkan shalat yang harus (wajib) diiringi dengan khusyu’.
Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari sahabat Zaid bin Arqam , beliau berkata: “Dahulu ada seseorang yang berbicara ketika dalam shalat. Maka turunlah ayat ini (Al Baqarah: 238). Sehingga kami diperintahkan untuk diam (yaitu khusyu’).” (H.R. Ahmad 4/368).
Demikian pula, Allah berfiman (artinya): “Dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al Baqarah: 45)
Allah menjelaskan bahwa ibadah shalat itu merupakan ibadah yang amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Sehingga ayat diatas mengandung celaan kepada orang-orang yang tidak khusyu’ dalam shalatnya. Atas dasar ini walaupun ayat diatas bersifat khabar (berita) namun mengandung makna perintah wajibnya khusyu’ dalam shalat.
Yang menunjukkan kewajiban khusyu’ dalam shalat juga firman Allah (artinya):”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ dalam shalatnya. … Mereka itulah yang akan mewarisi jannatul firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Al Mu’minun: 1,2-11).
Allah memberitakan bahwa diantara yang berhak mewarisi (menempati) jannatul firdaus adalah orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Sehingga tersirat dalam ayat ini adanya kandungan perintah khusyu’ dalam shalat. (Lihat penjelasan lebih lengkap dalam Majmu’ Fatawa 22/553)
Rasulullah juga memerintahkan untuk menjauhi perkara-perkara yang dapat mengganggu kekhusyu’an dalam shalat. Sebagaimana yang terdapat dalam sekian banyak hadits, diantaranya:
Ketika Rasulullah dalam keadaan shalat, datang Abdullah bin Mas’ud dan mengucapkan salam kepada beliau. Namun beliau tidak menjawab salam dari sabahat tersebut walaupun menjawab salam itu wajib. Seusai shalat, beliau menjelaskan:
إِنَّ فِي الصَّلاَةِ لَشُغْلاً
“Sesungguhnya shalat itu adalah (ibadah) yang amat menyibukkan.” (H.R. Muslim 1/381).
Dari Abdullah bin Al Arqam berkata: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:
إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْخَلاَءِ وَقَامَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَبْدَأْ بِالْخَلاَءِ
“Jika salah seorang diantara kalian ingin membuang hajat padahal shalat (jama’ah) telah ditegakkan, maka hendaklah ia membuang hajatnya (terlebih dahulu).” (H.R. Abu Dawud)
Al Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathul Bari 2/128 berkata: “Sungguh benar perkataan sahabat Abu Darda’: “Termasuk kefaqihan seseorang adalah menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu, sehingga ia menunaikan shalat dalam keadaan hatinya kosong (bersih) dari kesibukan-kesibukan dunia dan segala macam yang dapat menghalangi kekhusyukan.”

Keutamaan Khusyu’ Dalam Shalat
Diantara keutamaannya:
1. Tanda kesempurnaan iman.
2. Berhak mewarisi jannatul firdaus. Sebagiamana firman-Nya dalam surat Al Mu’minun: 1,2-11.
3. Penghapus dosa.
Dari sahabat Utsman bin Affan berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:
مَاامْرِىءٍ مِنْ مُسْلِمٍٍٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَ وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَالَمْ يُؤْتِي كَبِيْرَةً
“Tidaklah seorang muslim, bila telah datang waktu shalat wajib lalu membaikkan wudhu’nya, khusyu’nya, dan ruku’nya, melainkan itu sebagai penghabus dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar.” (H.R Muslim no. 228)
Dari Abu Darda’ , ia berkata: aku mendengar Rasulullah bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا يُحْسِنُ فِيهِمَا الذِّكْرَ وَالْخُشُوعَ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَفَرَ لَهُ
“Aku mendengar Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang berwudhu’ dengan dengan baik, kemudian berdiri shalat dua atau empat raka’at, dalam keadaan ia berdzikir dan khusyu’ lalu beristighfar kepada Allah , niscaya ia akan diampuni (dari dosa-dosanya). (Shahih At Targhib wat Tarhib no. 225).

sebab-sebab yang dapat mendatangkan khusyu’. Ada dua hal yang perlu diperhatikan:

I. Memperhatikan Kesiapan Shalat.
a. Pakaian shalat.
Hendaknya bagi orang yang shalat mengenakan pakain yang tidak mengganggu kekhusyu’an. Ummul mu’minin Aisyah berkata:
أَنَّ النَِّبيَّ صَلَّى في خَمِيْصِهِ لَهَا أَعْلاَمٌ فَنَظََرَ إِلىَ أَعْلاَمِهَا نَظْرَةً فَلَمَّا انْصَرَفَ قاَلَ: اِذْهَبُوا بِخَمِيْصَتِي هَذَهِ إِلَى أَبِى جَهْمٍ وَائْتُونِي بِأَنْبُجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنفا عَنْ صَلاَتِي
“Sesungguhnya Nabi pernah shalat dengan memakai khamishah (jenis pakain tertentu) yang bermotif/bercorak tertentu. Kemudian beliau melihat motif/coraknya dengan sekali lihatan. Seusai shalat, beliau berkata: ‘Pergilah kalian dengan membawa pakain ini kepada Abu Jahm, datangkan kepadaku anjubaniyah (jenis pakain polos). Karena khamishah itu dapat melalaikanku dalam shalat.” (H.R. Al Bukhari no. 373 dan Muslim no. 556)
b. Tempat shalat.
Hendaknya bagi orang yang shalat menyiapkan dan membersihkan tempat shalat dari segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyu’an. Shahabat Anas bin Malik berkata: “Aisyah memiliki qiram (sejenis klambu) yang terpasang disebelah rumahnya. Maka Rasulullah bersabda:
أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيْرُهُ تَعْرِضُ فيِ صَلاَتي
“Jauhkan qiram (klambu)-mu dariku, karena corak/motifnya dapat mengganggu shalatku.” (Al Bukhari no. 374)
dalam riwayat lainnya, bahwasannya Nabi pernah masuk ke ka’bah untuk shalat di dalamnya dan melihat dua tanduk kambing kibas. Seusai shalat, beliau berkata kepada Utsman Al Hajiby:
إِنِّي نَسِيْتُ أَنْ آمُرَكَ أَنْ تَخْمُرَ الْقَرْنَيْنِ فَإِنَّهُ لَيْسَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ فِي الْبَيْتِ شَيْءٌ يُشْغِلُ الْمُصَلِّي
“Sesungguhnya aku lupa menyuruhmu untuk menutup dua tanduk itu, karena tidak pantas ada sesuatu yang menyibukkan orang shalat dalam rumah Allah ini (Ka’bah).” (HR. Abu Dawud)
Inilah tauladan Rasulullah yang dicontohkan kepada umatnya. Beliau sebagai manusia yang paling bertaqwa dan khusyu’ ternyata masih tergangu kekhusyu’annya dengan perkara di atas, terlebih lagi kita.
Demikian pula hendaknya bagi orang yang shlalat mencari tempat yang tenang. Rasulullah melarang shalat dibelakang orang yang sedang ngobrol atau sedang tidur. Karena kedua hal tersebut bisa memalingkan perhatian dalam shalat.
لاَ تُصَلُّوا خَلْفَ النَّائِمِ وَلاَ الْمُتَحَدِّثِ لِأَنَّ الْمُتَحَدِّثَ يَلْهَى بِحَدِيْثِهِ، وَالنَّائِمُ قَدْ يَبْدُو مِنْهُ مَا يَلْهَى
“Janganlah kalian shalat di belakang orang yang sedang tidur dan orang yang sedang berbicara, karena orang yang berbicara bisa memalingkan(mu) dengan ucapannya dan orang yang sedang tidur terkadang menampakkan sesuatu yang bisa memalingkan(mu) darinya.” (H.R Abu Dawud)
c. Menghadirkan Kosentrasi.
Hendaknya bagi orang yang shalat, dalam keadaan siap (terkosentrasi), bukan masih dalam keadaan mengantuk. Karena rasa kantuk sangat mengganggu kosentrasi dalam shalat. Biasanya orang yang mengantuk kurang sadar apa yang sedang dibaca, apalagi menghayati kalimat ‘per’ kalimat. Bahkan terkadang, bisa menyebabkan lupa dari gerakan-gerakan atau bacaan-bacaan dalam shalat. Oleh karena itu bila rasa kantuk tidak bisa dihilangkan padahal dia dalam shalat, maka sebaiknya tidur untuk menghilangkan kantuknya, selama waktu shalat masih longgar dan bukan didasari malas. Rasulullah bersabda:
إِذَا نَعِسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ الْنَوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِى لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ
“Apabila salah seorang dari kalian shalat dalam keadaan mengantuk maka hendaklah dia tidur sampai hilang rasa kantuknya, karena jika salah seorang dari kalian shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak sadar (mengira) sedang beristighfar (memohon ampunan) padahal dia sedang mencela dirinya sendiri.” (H.R Al Bukhari, dari Aisyah)
Demikian pula shalat dalam keadaan sudah siap dihadapannya makanan atau ia dalam keadaan menahan hadats (besar atau kecil. Maka sebaiknya, ia menyantap makanan itu dan membuang hajatnya. Rasulullah bersabda:
لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ هُوَ يُدَافِعُهُ اْلأَخْبَثَانِ
“Tidak ada shalat ketika sudah disiapkan makanan dan tidak dalam keadaan menahan dua hadats.” (H.R. Muslim no. 560, dari shahabat Aisyah)
Al Imam An Nawawi dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim menambahkan penjelasan yang sangat penting, beliau berkata: “Di dalam hadits-hadits ini mengandung hukum makruh (dibencinya) shalat bila telah siap dihadapannya makanan dalam keadaan ia pun ingin memakannya, karena hal itu dapat menyibukkan hati dan menghilangkan kekhusyu’an. Demikian pula makruh (dibencinya) shalat bila dalam keadaan menahan dua hadats. Yaitu kencing dan buang air besar, atau sesuatu yang semakna dengan keduanya dari hal-hal yang dapat menyibukkan hati dan menghilangkan kekhusyu’an. Pendapat ini adalah pendapat kebanyakan madzhab Asy Syafi’i dan selainnya. Akan tetapi (dengan syarat) waktu shalat masih longgar. Bila waktu shalat sempit, kalau dia makan atau bersuci (membuang kedua/salah satu hajatnya lalu berwudhu’) ternyata waktu tidak cukup (keluar dari waktu shalat), maka ia shalat walaupun keadaannya seperti itu.”
Dari Abdullah bin Al Arqam, beliau pernah keluar untuk haji atau umrah bersama orang banyak dan beliau sebagai imam mereka. Ketika ditegakkan shalat -shalat shubuh- beliau berkata: “Majulah (jadi imam) salah satu diantara kalian, lalu beliau pergi untuk buang hajatnya.” Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:
إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْخَلاَءِ وَقَامَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَبْدَأْ بِالْخَلاَءِ
“Apabila salah seorang dari kalian hendak membuang hajatnya, sedangkan shalat sudah ditegakkan maka dahulukanlah buang hajatnya.” (H.R. Abu Dawud)
Al Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathul Bari 2/128 berkata: “Sungguh benar perkataan sahabat Abu Darda’: “Termasuk kefaqihan seseorang adalah membuag hajatnya terlebih dahulu, sehingga ia menunaikan shalat dalam keadaan hatinya kosong (bersih) dari kesibukan-kesibukan dunia dan segala macam yang dapat menghalangi kekhusyu’an.”
d. Menghilangkan Aroma Yang Dapat Mengganggu Shalat.
Aroma yang kurang enak, baik dari mulut, badan, ataupun pakain, hal ini tentunya dapat mengganggu kosentrasi orang yang shalat, dan juga mengganggu orang yang ada disampingnya. Rasulullah melarang orang yang habis makan bawang untuk menghadiri shalat jama’ah. Karena aroma bawang dapat mengganggu kekhusyu’an, kecuali bila bisa dipastikan sudah hilang aromanya. Rasulullah bersabda:
مَنْ أَكَلَ مِنْ هذِهِ الشَّجَرَةِ – يَعْنِى الثَّوْمَ- فَلاَ يُقَرِّبُنَا وَلاَ يُصَلِّي مَعَنَا
“Barang siapa yang makan dari pohon ini -yaitu bawang putih, dalam riwayat lainnya bawang merah/bakung- maka janganlah dekat dengan kami dan janganlah shalat bersama kami.” (Muttafaqun ‘alaihi, dari shahabat Anas)

II. Memperhatikan Beberapa Hal Dalam Shalat.
Ada beberapa hal yang memudahkan untuk menghadirkan kekhusyu’an. Diantaranya;
a. Mengingat mati.
Rasulullah bersabda:
اُذْكُرِ الْمَوْتَ فِي صِلاَتِكَ ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِي صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلاَتَهُ
“Ingatlah mati dalam shalatmu, karena bila seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan berupaya untuk memperbaiki shalatnya.” (Ash Shahihah no. 1421)
Dalam riwayat lainnya; Rasulullah berkata kepada Ayub Al Anshari:
إِذَا قُمْتَ فِي صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ
“Jika kamu hendak shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah (meninggalkan dunia).” (H.R. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no.742)
b. Mendatangi Shalat Dengan Sakinah (Tidak Terburu-Buru).
Rasulullah bersabda:
إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوْهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوْهَا تَمْشُوْنَ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ فَمَاأَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَافَتَاكُمْ فَأَتِمُّوا
“Bila telah ditegakkan shalat, maka jangan mendatanginya dengan lari (terburu-buru), namun berjalanlah dengan sakinah (tenang). Apa yang kalian dapati dari shalat (jama’ah) maka shalatlah dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (H.R. Muslim no. 602)
b. Mengerjakan Shalat dengan Thuma’ninah.
Rasulullah bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ سِرْقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ ، قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ : كَيْفَ يَسْرِقُ صَلاَتَهُ ، قَالَ : لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا
“Sejelek-jelek manusia adalah pencuri, yang mencuri shalatnya. (Ada seseorang yang berkata): ‘Wahai Rasulullah: ‘Bagaimana ia mencuri shalatnya? Rasulullah bersabda: “Yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (Shahihul Jami’ no. 997)
c. Mengarahkan Pandangannya Ke Tempat Sujud dan Jangan Menoleh.
Aisyah berkata:
كَانَ إِذَا صَلَّى طَأْطَأَ رَأْسَهُ وَرَمَى بِبَصَرِهِ نَحْوَ الأَرْضِ
“Apabila Rasulullah shalat, maka beliau, menundukkan pandangannya ke tanah (tempat sujud).” (Lihat Shifat Shalatin Nabi hal. 89) Rasulullah bersabda:
فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلاَتَلْتَفِتُوا فَإِنَّ اللهَ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ مَالَمْ يَلْتَفِتْ
“Jika kalian shalat maka janganlah kalian menoleh, karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya ke wajah hambanya dalam shalatnya selagi ia tidak menoleh.” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya)
d. Menghayati Bacaan Al Qur’an, do’a-do’a dan dzikir- dzikir.
Shahabat Hudzaifah berkata:
إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيْهَا تَسْبِيْحٌ سَبَّحَ وَ إِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَ إِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ
“Bila Rasulullah melewati ayat yang berkenaan dengan tasbih, maka beliaupun bertasbih. Dan bila melewati ayat yang berhubungan dengan kenikmatan (rahmat), maka beliau pun memohonnya. Serta bila melewati ayat yang berhubungan dengan adzab, maka beliau berlindung darinya.”(H.R. Muslim no. 772)
diantara sebab yang dapat membantu untuk dapat menghayati bacaan-bacaan shalat diantaranya; membaca al qur’an dengan tartil. Allah berfirman (artinya): “Dan Bacalah Al Qur’an dengan tartil.” (Al Muzammil: 4)
Demikian pula dengan suara yang indah. Karena Rasulullah bersabda:
زَيِّنُوا الْقُرآنَ بِأَصْوَاتِكُم فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حَسَنًا
“Perindahlah Al Qur’an dengan keindahan suara kalian. Karena suara yang indah dapat menambah keindahan Al Qur’an.”(H.R. Al Hakim, lihat Shahihul Jami’ no. 3581)

%d blogger menyukai ini: